Testimoni

Tuesday, August 18, 2015

Ibu Fransiska Pakage     

Sebelum bergabung menjadi guru TK Kasih, kegiatan sehari-hari diisi dengan menambang emas secara tradisional dan memancing ikan di sungai Topo untuk membantu suami mencukupi kebutuhan hidup sehari – hari.   Ibu beranak satu (Lidia Pakage, alumni TK Kasih angkatan I ) sekarang merasa senang, karena telah mendapat pelatihan yang diberikan oleh Yayasan Ena Indonesia untuk mengajar di TK, sekaligus mengajari anaknya sendiri di rumah.

Dari pelatihan dan melihat mentor mengajar di kelas, saya mencoba menerapkannya dan ternyata dengan metode Apel (anak sebagai pelaku pembelajaran) sangat menyenangkan. Ttimbul pertanyaan , bagaimana menyiasati pembelajaran yang menarik, menghubungkan dengan alat peraga yang disediakan di alam, sehingga anak didik mengerti.

Ini membuat hidup menjadi berarti saat mau melayani buat sesama.  Saya terus mau belajar dan mau menambah ilmu di Universitas Terbuka Nabire, jurusan PAUD.

Ibu Kasperlina Madai

Sebelum bergabung menjadi guru TK Kasih, kegiatan yang dilakukan adalah membuat tas noken dari benang warna-warni, menghias kotak tissue dengan ronce manik-manik dan mengurus keluarga.  Takut dan tidak mengerti bagaimana akan mengajar TK. Setelah satu tahun dibimbing dan diberi pelatihan dari Yayasan Ena Indonesia, sekarang tidak takut lagi untuk mengajar. Ada tahapan-tahapan dalam mengajar, dan harus bisa “menguasai kelas”, misalkan : kalau kelas ribut, murid tidak perhatian, dll. Ini yang penting untuk saya terapkan dalam mengajar .

Yayasan Ena Indonesia juga menjelaskan tentang sistem sekolah ; absensi guru dan murid, perkembangan anak di dalam kelas, persiapan mengajar dari kami guru-guru dan pencatatan keuangan sekolah harus disiplin dikerjakan.  Saya juga merangkap jadi bendahara sekolah .

Anak saya ada 4;  Jeniari kelas 10, Kristian kelas 4, Milanesia kelas TK B, dan Romeo masih balita.

Saya juga ingin terus belajar bagaimana menjadi guru TK yang lebih baik lagi, dan memperdalam di Universitas Terbuka Nabire, jurusan PAUD, bersama Ibu Fransiska Pakage.

Ibu Anace Gobai

Saya merasa senang sekali diajak bergabung untuk mendidik anak-anak TK, kegiatan sehari-hari membuka kios didepan rumah sampai sekarang, terkadang memancing ikan di sungai.

Anak saya Yokbet, kelas 9.

Setiap pagi sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai , kita, guru-guru  saling mendoakan pergumulan keluarga masing-masing , berdoa untuk anak-anak, berdoa untuk lingkungan distrik Uwapa supaya ada perubahan yang nyata dimulai dari TK Kasih  Topo.

Terima kasih buat Yayasan Ena Indonesia yang telah memberikan bimbingan dan pelatihan untuk saya boleh mengajar lebih baik lagi.   Perhatian , kasih sayang dan disiplin harus selalu jita berikan ke anak-anak di Topo.

Saya juga ingin terus belajar, bagaimana menjadi guru yang lebih baik , memperdalam di Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).

Ibu Sipora Burumi

Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa TK Kasih boleh ada dan membawa perubahan buat anak-anak di Topo.  Kegiatan saya sebagai koordinator sekolah minggu, kebaktian tunas di Gereja Kemah Injili (KINGMI) di Tanah Papua sampai sekarang.

Terima kasih buat Yayasan Ena Indonesia yang terus membina kami (ibu-ibu rumah tangga biasa) menjadi luar biasa, sehingga kami dibekali, dilatih dan dididik menjadi guru TK dan perubahan itu sudah terjadi.

Mama Jesika Madai ,TK B, mendapatkan kesempatan bersekolah di kampus STT WalterPost Nabire, mengambil jurusan teologi pendidikan dalam tahun ini, sehingga kegiatan cukup sibuk harus bisa membagi waktu.

Pdt Yusak Yobee S.Th

Mulai tahun ajaran 2015/2016 , tugas sebagai kepala sekolah dipercayakan kepada saya.  Tahun sebelumnya Yayasan Ena Indonesia telah memulai menghadirkan pendidikan dimulai dari TK yang berbasis anak sebagai pelaku pembelajaran itu sendiri yang diistilahkan dengan metode Apel di wilayah atau tanah gereja kami (KINGMI).  Sebelum TK Kasih berdiri, saya mengijinkan gereja untuk dipakai sebagai sarana pendidikan, kalau tidak ada acara ibadah.

Saya sangat berat menerima tanggung jawab ini, tetapi kalau bukan kita orang yang memajukan tanah kita sendiri, tidak mungkin kita bisa mandiri!.

Saya sangat bersyukur ada Yayasan Ena Indonesia yang terus mau memperhatikan kami, masyarakat Topo, lewat pendampingan yang dilakukannya. Dan kami bersama-sama mengajak lembaga adat “Makiwado” untuk bersama-sama bekerja untuk mencapai tujuan: Masyarakat mencintai dan memiliki daerah kita sendiri.

Dimulai dari mana perubahan ini bisa terjadi?  Pendidikan TK Kasih sudah berjalan , meningkatkan sumber daya manusia dan sistem pendidikan TK , ke depannya ada  SD, SMP dan SMK yang berpola asrama menjadi doa dan fokus saya. Kita terus bergandeng tangan dan bersama Tuhan Yesus biarlah ini terjadi, amin.

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.